
Surah Al Muddatstsir 11
ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا
««•»»
dzarnii waman khalaqtu wahiidaan
««•»»
iarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian {1527}.
{1527} Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan mengenai
seorang kafir Mekah, pemimpin Quraisy bernama Al Walid bin Mughirah.
««•»»Leave Me [to deal] with him whom I created alone,
««•»»
Setelah Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW supaya bangun dan memperingatkan umat yang masih dalam kesesatan, membesarkan-Nya, membersihkan pakaian dan pribadi dari segala kotoran, menjauhi segala dosa dan beramal dengan ikhlas serta menghadapi tantangan musuh, yang dilanjutkan pula dengan citra, suasana ketika terjadi Hari Kiamat, maka dalam ayat-ayat berikut ini Allah melukiskan watak dan perangai orang yang menentang ayat-ayat-Nya yang membawa kepada kehancurannya sendiri. Lalu Allah mengancam pula orang-orang yang menuduh Alquran itu sihir dan perkataan manusia biasa dengan ancaman neraka Saqar yang dijaga oleh 19 malaikat.
Rangkaian ayat 11 s/d 30 ini dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa sejarah yang pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa congkak dan sombongnya pemimpin-pemimpin Quraisy dalam menentang kebenaran risalah Ilahi.
Diceritakan oleh ahli-ahli tafsir, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW sedang melakukan salat di Masjidil Haram. Beliau membaca surah Al Mukmin. Di luar pengetahuan beliau, seorang tokoh dan musuh utama beliau dan sekaligus sastrawan yang sangat diakui kehebatannya. mendengar dengan tekun sekali ayat-ayat suci yang beliau baca. Akhirnya beliau sadar juga ada orang Quraisy yang diam-diam mendengarkan beliau membacakan surah. Rasul pun kemudian mengulang bacaannya. Tokoh Quraisy yang dimaksudkan adalah Al Walid bin Al Mugirah (ayah kandung dari Khalid bin Walid).
Selesai mendengar bacaan Rasul, Al Walid kembali pulang. Dia menceritakan kepada kaumnya (Bani Makhzum) dan mengatakan terus terang, "Demi .Allah, sebentar ini saya mendengarkan Muhammad membaca suatu perkataan yang menurut keyakinanku bahwa itu bukan perkataan manusia, juga bukan perkataan jin. Demi Allah, sungguh sangat nikmat mendengarkannya. Pucuknya penuh dengan buah, akarnya kaya dengan zat-zat. Sungguh maha tinggi nilainya, tiada satupun menyainginya".
Seusai pertemuan tak resmi itu, Al Walid pulang ke rumahnya. Orang-orang yang baru saja terpukau dengan keterangan Al Walid saling berpandangan. Banyak di antara mereka mencap Al Walid sudah murtad dari agamanya. Kalau Al Walid murtad, pasti banyak orang Quraisy mengikutinya. Mendengar pernyataan demikian, Abu Jahal yang paling cemas dengan keadaan Al Walid segera menjanjikan, "Saya tetap menjamin Al Walid masih bersama agama nenek moyang kita". Abu Jahal berangkat menemui Al Walid di rumahnya. Abu Jahal berkata dengan bersedih hati menceritakan betapa orang Quraisy sangat gelisah mendengarkan pernyataan Al Walid itu. Al Walid heran dan bertanya, "Kenapa pula engkau sedih sahabatku?" Abu Jahal menjawab, "Betapa tidak hai Al Walid, sedang orang-orang Quraisy berusaha mengumpulkan nafkah (belanja) untukmu mengingat usiamu yang sudah lanjut (tidak kuat berusaha), namun (karena ucapanmu tadi) mereka menuduhmu terpengaruh oleh ucapan Muhammad. Apakah kamu memasuki rumah anak Abu Kabsyah dan Abu Quhafah untuk bisa mendapatkan pula sisa-sisa makanan mereka?
Mendengar orang Quraisy menuduh dia mendapatkan sisa makanan dari anak Abu Quhafah ia merasa tersinggung dan marah sekali, "Apakah Quraisy tidak mengerti bahwa aku ini cukup banyak punya harta dan anak?". Apakah betul Muhammad dan sahabatnya kenyang dengan makanan sehingga mereka punya sisa-sisanya?".
Dalam keadaan marah seperti itu, Al Walid datang menemui kaumnya bersama Abu Jahal. Dengan ada keras ia berpidato, "Kamu menuduh Muhammad gila, pernahkan kamu perhatikan dia berbuat seperti orang sinting? mereka menjawab Allahumma tidak. Apakah kamu tuduh dia tukang tenung, dan pernahkan kamu saksikan dia menenung orang?. Mereka menjawab "Tidak". Apakah kamu tuduh dia pembohong, pernahkah kamu merasa dibohongi? Mereka menjawab, "Tidak". Nah, tidak bukan? Bukankah dia mendapatkan julukan terhormat sebagai Al Amin sebelum jadi Nabi? Mereka akhirnya mendesak Al Walid. Kalau demikian hai Al Walid, siapakah Muhammad itu sebenarnya menurut pendapat tuan? Al Walid menjawab, "Tiadalah dia (Muhammad) melainkan tukang sihir. Apakah tuan-tuan tidak memperhatikan dialah yang menceraikan antara suami dengan istrinya, antara anak dan bapak, antara budak dengan tuannya. Semua pekerjaan itu dikerjakan tukang sihir. Sihir yang diucapkan Muhammad adalah pilihan dari sihir-sihir Musailamah dan penduduk Babil".
Mendengar penjelasan Al Walid, semua yang hadir merasa girang, mereka bubar kagum atas kehebatan Al Walid.
Untuk membantah tuduhan Al Walid yang sangat keji itu, Allah menurunkan rangkaian ayat-ayat ini.
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa Dia-lah yang akan berbuat sesuatu terhadap orang yang telah diciptakannya sendiri. Dia telah menciptakannya dan mengeluarkan diri dari perut ibunya, tanpa harta bahkan tanpa anak. Lalu Dia anugerahkan kepadanya rezeki, dan kepandaian memimpin kaumnya. Akan tetapi dia membangkang kepada-Nya.
Ayat ini menyebutkan kata-kata "Wahid" (satu-satunya), sebagai sindiran kepada Al Walid yang bergelar wahid, sebab dialah yang paling menonjol di kalangan kaumnya, karena kekayaan, pangkat dan harta yang dimilikinya. Al Walid memiliki kebun ladang serta areal peternakan yang luas antara Mekah dan Taif. Mempunyai unta, kuda, kambing dan budak belian. Mempunyai 10 orang anak yang perkasa (tiga di antaranya kelak masuk Islam, yaitu Khalid, Hisyam dan Imarah). Lebih dari itu Allah telah menganugerahkan usia panjang dengan kekayaan yang cukup kepada orang tua itu (wafat dalam usia 90 tahun), dihormati dan disegani kaumnya.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Biarkanlah Aku) artinya, serahkanlah kepada-Ku (untuk menindak orang yang Aku ciptakan) lafal Waman di'athafkan kepada Maf'ul atau kepada Maf'ul Ma'ah (dalam keadaan sendirian) menjadi Haal atau kata keterangan keadaan bagi lafal Man, atau bagi Dhamirnya yang tidak disebutkan. Maksudnya, orang yang diciptakan-Nya hanya dia sendiri, tanpa keluarga, tanpa harta benda, dia adalah Walid bin Mughirah Al-Makhzumi.
««•»»
Leave Me [to deal] with him whom I created (wa-man khalaqtu is a supplement to the direct object, or [it is] an object of accompaniment) lonely (wahīdan is a circumstantial qualifier referring to the man, ‘whom’, or to the pronoun referring to it but omitted from khalaqtu [sc. khalaqtuhu]), alone, without family or wealth — this was al-Walīd b. al-Mughīra al-Makhzūmī —
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Imam Ibnu Abu Hatim dan Imam Baihaqi di dalam kitab Al Ba'ts-nya, keduanya mengetengahkan sebuah hadis melalui Barra, bahwasanya ada segolongan orang-orang Yahudi bertanya kepada seseorang di antara sahabat Nabi saw. tentang juru kunci neraka Jahanam. Lalu sahabat yang ditanya itu melaporkan hal tersebut kepada Nabi saw. maka pada saat itu juga turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)."
(QS. Al Muddatstsir [74]:30)
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 10]•[AYAT 12]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
11of56
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=74&tAyahNo=11&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#74:11
•[AYAT 10]•[AYAT 12]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
11of56
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=74&tAyahNo=11&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#74:11

Tidak ada komentar:
Posting Komentar