Sabtu, 11 Juli 2015

[074] Al Muddatstsir Ayat 016

««•»»
Surah Al Muddatstsir 16

كَلَّا إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا
««•»»
kallaa innahu kaana li-aayaatinaa 'aniidaan
««•»»
Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al Quraan).
««•»»
No indeed! He is an obstinate opponent of Our signs.
««•»»

Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa sikap Al Walid itu tidak akan menambah apa yang diinginkannya, karena sesungguhnya ia menentang ayat-ayat-Nya. Tegasnya Allah sekali-kali tidak akan mengabulkan kehendak Al Walid. Bahkan menurut riwayat semenjak turunnya pernyataan Allah ini harta dan kekayaan-Nya semakin berkurang. Anak pun begitu, meninggal satu persatu sehingga habis semua. Akhirnya Al Walid tinggal sebatang kara.

Al Walid selalu menunjukkan sikap menentang keterangan-keterangan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW, berupa dalil-dalil tentang keesaan Allah, kekuasaan-Nya, penjelasan tentang adanya hari berbangkit, keterangan tentang risalah dan nubuat yang beliau bawa dan lain-lain. Al Walid menentang dengan keras wahyu Allah yang diturunkan-Nya melalui Muhammad SAW. Karena itu ia berusaha pula hendak berbicara meniru gaya Alquran. Dia menganggap kalau Allah hendak mengutus juga seorang Rasul di kalangan bangsa Arab, maka tiada yang lebih pantas untuk menerima tugas suci itu melainkan dia sendiri. Begitulah kesombongan dan sikap keras kepala menghilangkan segala kesenangan duniawinya.

Segi lain yang kita ambil dari ayat ini adalah keingkaran Al Walid terhadap Allah dikategorikan kafir `inad, maksudnya dia tahu betul dan mengakui dengan hati kecilnya bahwa apa yang disampaikan Nabi Muhammad adalah benar, namun lidah (ucapan) tetap mengingkarinya. Inilah jenis kekafiran yang paling kotor dan keji. Kafir seperti banyak terdapat pada masa sekarang. Hati kecil mengakui ajaran agama itu benar dan menguntungkan, namun lidahnya tetap menentang karena berbagai faktor.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Sekali-kali tidak) Aku tidak akan memberikan tambahan lagi kepadanya selain dari hal tersebut (karena sesungguhnya dia terhadap ayat-ayat Kami) yakni terhadap Alquran (selalu menentang) selalu melawan dan ingkar.
««•»»
Nay!, I shall not give him more than that. He is indeed stubborn to Our signs, [to] the Qur’ān.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 15][AYAT 17]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
16of56
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=74&tAyahNo=16&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#74:16

[074] Al Muddatstsir Ayat 015

««•»»
Surah Al Muddatstsir 15

ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ
««•»»
tsumma yathma'u an aziida
««•»»
Kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya.
««•»»
Still he is eager that I should give him more.
««•»»

Ayat ini menyatakan bahwa Al Walid ingin sekali supaya Allah menambah kekayaannya, biarpun sudah demikian kaya dalam segala-galanya, namun dia (Al Walid) masih mengharapkan tambahan dari apa yang sudah ada. Begitulah watak manusia yang tak kenal puas, tak pernah terbatas angan-angan dan keinginannya. Watak ini akan muncul selalu sepanjang zaman.

Rasulullah SAW telah memperingatkan dalam sabdanya yang berbunyi:
لو كان لابن آدم واديان من ذهب لتمنى لهما ثالثا
Andaikata anak Adam (manusia) itu mempunyai dua lembah yang penuh berisi emas, pastilah dia menginginkan yang ketiganya".

Rasulullah bersabda:
منهومان لا يشبعان طالب علم وطالب مال
"Dua orang yang banyak menuntut, makan yang tidak pernah kenyang (yakni) penuntut ilmu dan pencari harta benda"
(H.R. Darimi)

Kesombongan Al Walid memang keterlaluan sekali. Pernah ia melontarkan ucapan:
إن كان محمد صادقا فما خلقت الجنة إلا لي
"Kalau memang Muhammad itu seorang yang benar, tentulah surga itu tidak diciptakan melainkan untuk saya".

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahkannya.)
««•»»
Still he is eager that I should give [him] more.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 14][AYAT 16]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
15of56
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=74&tAyahNo=15&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#74:15

[074] Al Muddatstsir Ayat 014

««•»»
Surah Al Muddatstsir 14

وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا
««•»»
wamahhadtu lahu tamhiidaan
««•»»
Dan Ku lapangkan baginya (rezki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya,
««•»»
and facilitated [all matters] for him.
««•»»

Ayat ini mengutarakan bahwa Allah mencurahkan sebanyak-banyaknya rezeki kepadanya, berupa harta,anak dan umur panjang. Ditambah lagi karunia berupa kedudukan yang tinggi di kalangan Quraisy, sehingga mendapat gelar terhormat sebagai "Raihanah Quraisy". Seharusnya Al Walid bersyukur kepada Allah dengan segenap nikmat dan kesenangan yang diterimanya, akan tetapi justru sebaliknya dia berpaling dari kebenaran dan bersikap keras kepala.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan Kulapangkan) Kuluaskan (baginya) kehidupan, umurnya dan anak-anak yang dimilikinya (dengan selapang-lapangnya.)
««•»»
and facilitated, extended, for him greatly, [his] livelihood, duration of life and children.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 13][AYAT 15]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
14of56
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=74&tAyahNo=14&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#74:14

[074] Al Muddatstsir Ayat 013

««•»»
Surah Al Muddatstsir 13

وَبَنِينَ شُهُودًا
««•»»
wabaniina syuhuudaan
««•»»
Dan anak-anak yang selalu bersama dia,
««•»»
and [gave him] sons to be at his side,
««•»»

Ayat ini mengungkapkan Allah-pun menganugerahkan kepada hartawan dan bangsawan Quraisy ini putra yang selalu ikut serta bersama dia. Sebab dia orang kaya dan tidak memerlukan bantuan orang lain mengurus anaknya, maka anaknya tidak perlu mengembara ke negeri lain untuk mencari rezeki karena semuanya harus berdekatan dengan ayahnya sendiri. Ada pula yang mengartikan bahwa anak-anak Al Walid selalu mendampinginya apabila orang tua itu menghadiri pertemuan atau perayaan-perayaan, sehingga menimbulkan kesan akan kebesaran dan kemuliaannya. Putra-putra yang dibanggakan itu ada 7 orang (Al Walid, Khalid, Hisyam, As. Qais dan Abdussyam). Tiga orang di antaranya (Khalid, Hisyam dan Imarah) telah masuk Islam, memenuhi seruan Nabi.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan anak-anak) yang jumlahnya sepuluh orang atau lebih (yang selalu bersama dia) di kala menyaksikan perayaan-perayaan dan kamu pun mendengar tentang persaksian mereka itu.
««•»»
and sons, ten or more, present [by his side], present at social gatherings and whose testimonies are listened to,
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 12][AYAT 14]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
13of56
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=74&tAyahNo=13&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#74:13

[074] Al Muddatstsir Ayat 012

««•»»
Surah Al Muddatstsir 12

وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا
««•»»
waja'altu lahu maalan mamduudaan
««•»»
Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak,
««•»»
and then furnished him with extensive means,
««•»»

Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa Dia memberikan kepada Al Walid harta yang banyak. Dia (Al Walid) telah dianugerahi Allah berbagai macam harta, sehingga menjadi satu-satunya orang terkaya di kalangan kaumnya.

Tidaklah mengherankan kalau sampai terlontar ucapan dari mulut Al Walid:
أنا الوحيد ابن الوحيد ليس لي في الغرب نظير ولا لأبي نظير
"Sayalah satu-satunya di negeri ini, tiada seorang pun di kalangan Arab dapat menandingi saya, juga tiada menandingi bapak saya".

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak) harta yang luas dan berlimpah, berupa tanam-tanaman, susu perahan, dan perniagaan.
««•»»
and [then] assigned him ample means, abundant and continuous, [generated] from [his] crops, livestock and commerce,
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 11][AYAT 13]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
12of56
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=74&tAyahNo=12&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#74:12

[074] Al Muddatstsir Ayat 011

««•»»
Surah Al Muddatstsir 11

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا
««•»»
dzarnii waman khalaqtu wahiidaan
««•»»
iarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian {1527}.
{1527} Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan mengenai seorang kafir Mekah, pemimpin Quraisy bernama Al Walid bin Mughirah.
««•»»
Leave Me [to deal] with him whom I created alone,
««•»»

Setelah Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW supaya bangun dan memperingatkan umat yang masih dalam kesesatan, membesarkan-Nya, membersihkan pakaian dan pribadi dari segala kotoran, menjauhi segala dosa dan beramal dengan ikhlas serta menghadapi tantangan musuh, yang dilanjutkan pula dengan citra, suasana ketika terjadi Hari Kiamat, maka dalam ayat-ayat berikut ini Allah melukiskan watak dan perangai orang yang menentang ayat-ayat-Nya yang membawa kepada kehancurannya sendiri. Lalu Allah mengancam pula orang-orang yang menuduh Alquran itu sihir dan perkataan manusia biasa dengan ancaman neraka Saqar yang dijaga oleh 19 malaikat.

Rangkaian ayat 11 s/d 30 ini dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa sejarah yang pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa congkak dan sombongnya pemimpin-pemimpin Quraisy dalam menentang kebenaran risalah Ilahi.

Diceritakan oleh ahli-ahli tafsir, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW sedang melakukan salat di Masjidil Haram. Beliau membaca surah Al Mukmin. Di luar pengetahuan beliau, seorang tokoh dan musuh utama beliau dan sekaligus sastrawan yang sangat diakui kehebatannya. mendengar dengan tekun sekali ayat-ayat suci yang beliau baca. Akhirnya beliau sadar juga ada orang Quraisy yang diam-diam mendengarkan beliau membacakan surah. Rasul pun kemudian mengulang bacaannya. Tokoh Quraisy yang dimaksudkan adalah Al Walid bin Al Mugirah (ayah kandung dari Khalid bin Walid).

Selesai mendengar bacaan Rasul, Al Walid kembali pulang. Dia menceritakan kepada kaumnya (Bani Makhzum) dan mengatakan terus terang, "Demi .Allah, sebentar ini saya mendengarkan Muhammad membaca suatu perkataan yang menurut keyakinanku bahwa itu bukan perkataan manusia, juga bukan perkataan jin. Demi Allah, sungguh sangat nikmat mendengarkannya. Pucuknya penuh dengan buah, akarnya kaya dengan zat-zat. Sungguh maha tinggi nilainya, tiada satupun menyainginya".

Seusai pertemuan tak resmi itu, Al Walid pulang ke rumahnya. Orang-orang yang baru saja terpukau dengan keterangan Al Walid saling berpandangan. Banyak di antara mereka mencap Al Walid sudah murtad dari agamanya. Kalau Al Walid murtad, pasti banyak orang Quraisy mengikutinya. Mendengar pernyataan demikian, Abu Jahal yang paling cemas dengan keadaan Al Walid segera menjanjikan, "Saya tetap menjamin Al Walid masih bersama agama nenek moyang kita". Abu Jahal berangkat menemui Al Walid di rumahnya. Abu Jahal berkata dengan bersedih hati menceritakan betapa orang Quraisy sangat gelisah mendengarkan pernyataan Al Walid itu. Al Walid heran dan bertanya, "Kenapa pula engkau sedih sahabatku?" Abu Jahal menjawab, "Betapa tidak hai Al Walid, sedang orang-orang Quraisy berusaha mengumpulkan nafkah (belanja) untukmu mengingat usiamu yang sudah lanjut (tidak kuat berusaha), namun (karena ucapanmu tadi) mereka menuduhmu terpengaruh oleh ucapan Muhammad. Apakah kamu memasuki rumah anak Abu Kabsyah dan Abu Quhafah untuk bisa mendapatkan pula sisa-sisa makanan mereka?

Mendengar orang Quraisy menuduh dia mendapatkan sisa makanan dari anak Abu Quhafah ia merasa tersinggung dan marah sekali, "Apakah Quraisy tidak mengerti bahwa aku ini cukup banyak punya harta dan anak?". Apakah betul Muhammad dan sahabatnya kenyang dengan makanan sehingga mereka punya sisa-sisanya?".

Dalam keadaan marah seperti itu, Al Walid datang menemui kaumnya bersama Abu Jahal. Dengan ada keras ia berpidato, "Kamu menuduh Muhammad gila, pernahkan kamu perhatikan dia berbuat seperti orang sinting? mereka menjawab Allahumma tidak. Apakah kamu tuduh dia tukang tenung, dan pernahkan kamu saksikan dia menenung orang?. Mereka menjawab "Tidak". Apakah kamu tuduh dia pembohong, pernahkah kamu merasa dibohongi? Mereka menjawab, "Tidak". Nah, tidak bukan? Bukankah dia mendapatkan julukan terhormat sebagai Al Amin sebelum jadi Nabi? Mereka akhirnya mendesak Al Walid. Kalau demikian hai Al Walid, siapakah Muhammad itu sebenarnya menurut pendapat tuan? Al Walid menjawab, "Tiadalah dia (Muhammad) melainkan tukang sihir. Apakah tuan-tuan tidak memperhatikan dialah yang menceraikan antara suami dengan istrinya, antara anak dan bapak, antara budak dengan tuannya. Semua pekerjaan itu dikerjakan tukang sihir. Sihir yang diucapkan Muhammad adalah pilihan dari sihir-sihir Musailamah dan penduduk Babil".

Mendengar penjelasan Al Walid, semua yang hadir merasa girang, mereka bubar kagum atas kehebatan Al Walid.

Untuk membantah tuduhan Al Walid yang sangat keji itu, Allah menurunkan rangkaian ayat-ayat ini.

Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa Dia-lah yang akan berbuat sesuatu terhadap orang yang telah diciptakannya sendiri. Dia telah menciptakannya dan mengeluarkan diri dari perut ibunya, tanpa harta bahkan tanpa anak. Lalu Dia anugerahkan kepadanya rezeki, dan kepandaian memimpin kaumnya. Akan tetapi dia membangkang kepada-Nya.

Ayat ini menyebutkan kata-kata "Wahid" (satu-satunya), sebagai sindiran kepada Al Walid yang bergelar wahid, sebab dialah yang paling menonjol di kalangan kaumnya, karena kekayaan, pangkat dan harta yang dimilikinya. Al Walid memiliki kebun ladang serta areal peternakan yang luas antara Mekah dan Taif. Mempunyai unta, kuda, kambing dan budak belian. Mempunyai 10 orang anak yang perkasa (tiga di antaranya kelak masuk Islam, yaitu Khalid, Hisyam dan Imarah). Lebih dari itu Allah telah menganugerahkan usia panjang dengan kekayaan yang cukup kepada orang tua itu (wafat dalam usia 90 tahun), dihormati dan disegani kaumnya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Biarkanlah Aku) artinya, serahkanlah kepada-Ku (untuk menindak orang yang Aku ciptakan) lafal Waman di'athafkan kepada Maf'ul atau kepada Maf'ul Ma'ah (dalam keadaan sendirian) menjadi Haal atau kata keterangan keadaan bagi lafal Man, atau bagi Dhamirnya yang tidak disebutkan. Maksudnya, orang yang diciptakan-Nya hanya dia sendiri, tanpa keluarga, tanpa harta benda, dia adalah Walid bin Mughirah Al-Makhzumi.
««•»»
Leave Me [to deal] with him whom I created (wa-man khalaqtu is a supplement to the direct object, or [it is] an object of accompaniment) lonely (wahīdan is a circumstantial qualifier referring to the man, ‘whom’, or to the pronoun referring to it but omitted from khalaqtu [sc. khalaqtuhu]), alone, without family or wealth — this was al-Walīd b. al-Mughīra al-Makhzūmī —

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Ibnu Abu Hatim dan Imam Baihaqi di dalam kitab Al Ba'ts-nya, keduanya mengetengahkan sebuah hadis melalui Barra, bahwasanya ada segolongan orang-orang Yahudi bertanya kepada seseorang di antara sahabat Nabi saw. tentang juru kunci neraka Jahanam. Lalu sahabat yang ditanya itu melaporkan hal tersebut kepada Nabi saw. maka pada saat itu juga turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)."
(QS. Al Muddatstsir [74]:30)
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 10][AYAT 12]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
11of56
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=74&tAyahNo=11&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#74:11

[074] Al Muddatstsir Ayat 010

««•»»
Surah Al Muddatstsir 10

عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ
««•»»
'alaa alkaafiriina ghayru yasiirin
««•»»
Bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah.
««•»»
not at all easy for the faithless.
««•»»

Dalam ayat ini ditegaskan lagi bahwa tidaklah mudah bagi orang-orang kafir itu menghadapi suasana Hari Kiamat yang dahsyat dan menakutkan itu. Sebab pada hari itulah mereka menerima segala hasil perbuatan mereka dari buku amalan sebelah kiri sebagai tanda masuk neraka. Tiada lagi kebahagiaan umat yang kafir itu pada hari tersebut. Semuanya serba susah dan pedih, tidak seperti kesenangan yang pernah mereka nikmati di dunia dahulu.

Kenapa mereka mengalami kesulitan? Selain pernah menerima buku di sebelah kiri, juga harus mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan mereka dihadapan Mahkamah Allah Yang Maha Adil, yang tidak seorangpun dapat mengelak dan tidak seorangpun yang merasa dirugikan. Sebab di hari itu pula segala anggota tubuh ikut berbicara mengajukan kesaksian dengan sendirinya terhadap yang pernah dikerjakan, padahal mulut yang di dunia pandai bicara. pada hari itu ia terkunci rapat, diam membisu seribu bahasa. Semua mereka menundukkan kepala di hadapan Allah, mengakui kesalahan dan kekhilafan masa lalu, akan tetapi sayang pintu penyesalan sudah ditutup.

Adapun orang mukmin yang telah menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk berjihad di jalan Allah, mereka menghadapi kiamat dengan perasaan cerah, tanpa diliputi ketakutan sedikitpun. Mereka tidak akan dipersulit perhitungan soalnya, dan berjalan berbaris dan bersaf-saf menuju Mahkamah Ilahi dengan wajah cerah.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah) di dalam ungkapan ini terkandung pengertian, bahwa keadaan pada hari itu dirasakan amat ringan oleh orang-orang yang beriman di balik kesulitan yang dirasakan oleh orang-orang kafir.
««•»»
for the disbelievers, not at all easy: herein is an indication that it will be easy for believers despite its harshness.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 9][AYAT 11]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
10of56
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=74&tAyahNo=10&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#74:10

[074] Al Muddatstsir Ayat 009

««•»»
Surah Al Muddatstsir 9

فَذٰلِكَ يَومَئِذٍ يَومٌ عَسيرٌ
««•»»
fadzalika yawma-idzin yawmun 'asiirun
««•»»
Maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit,
««•»»
that day will be a day of hardship,
««•»»

Setelah Allah memberikan pengarahan khusus kepada Nabi Muhammad SAW (yang juga menjadi cermin pengajaran bagi umat beliau) yang dimulai dari ayat 1 s/d 7 di atas, maka pada ayat ini dibayangkan pula tentang suasana kedatangan Hari Kiamat. Jelasnya di hari yang dijanjikan itu orang-orang yang telah menyakiti hati para Rasul, juru dakwah karena mereka menyampaikan ajaran Allah, akan mengalami suatu kesulitan yang luar biasa. Tersentak mereka mendengar seruan kiamat ditiup malaikat Israfil, mereka langsung merasakan betapa hebatnya kesulitan yang harus ditempuh. Karena itu Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW supaya bersabar saja atas gangguan-gangguan musuh tersebut.

Pada Hari Kiamat kelak semua orang mendapatkan apa yang telah mereka amalkan, berupa kesenangan yang abadi bagi orang yang beriman dan berjihad menegakkan keimanannya yang benar, serta kecelakaan dan kesengsaraan bagi siapa yang ingkar dan hidup atas keingkaran itu.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Maka waktu itu) waktu peniupan sangkakala yang kedua (adalah waktu) lafal Yaumaidzin berkedudukan menjadi Badal dari lafal yang sebelumnya, dan sekaligus menjadi Mubtada. Lafal Yaumaidzin dimabnikan karena mengingat dimudhafkan kepada Isim yang Ghairu Mutamakkin. Kemudian yang menjadi Khabarnya ialah (datangnya hari yang sulit) Amil yang mempengaruhi lafal Idza adalah kalimat yang disimpulkan dari pengertian keseluruhannya. Yakni pada hari itu perkara dirasakan amat berat.
««•»»
that day, that is to say, the time of the sounding (yawma’idhin is a substitution for the preceding subject, and is not declined because it is annexed to something that cannot be declined; the predicate of the subject [is the following]) will be a harsh day (idhā is operated by what is indicated by the statement: ishtadda’l-amru, ‘[for when the trumpet is sounded] the situation will be terrible’),
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 8][AYAT 10]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
9of56
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=74&tAyahNo=9&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#74:9

[074] Al Muddatstsir Ayat 008

««•»»
Surah Al Muddatstsir 8

فَإِذا نُقِرَ فِي النّاقورِ
««•»»
fa-idzaa nuqira fii alnnaaquuri
««•»»
Apabila ditiup sangkakala,
««•»»
When the Trumpet will be sounded,
««•»»

Setelah Allah memberikan pengarahan khusus kepada Nabi Muhammad SAW (yang juga menjadi cermin pengajaran bagi umat beliau) yang dimulai dari ayat 1 s/d 7 di atas, maka pada ayat ini dibayangkan pula tentang suasana kedatangan Hari Kiamat. Jelasnya di hari yang dijanjikan itu orang-orang yang telah menyakiti hati para Rasul, juru dakwah karena mereka menyampaikan ajaran Allah, akan mengalami suatu kesulitan yang luar biasa. Tersentak mereka mendengar seruan kiamat ditiup malaikat Israfil, mereka langsung merasakan betapa hebatnya kesulitan yang harus ditempuh. Karena itu Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW supaya bersabar saja atas gangguan-gangguan musuh tersebut.

Pada Hari Kiamat kelak semua orang mendapatkan apa yang telah mereka amalkan, berupa kesenangan yang abadi bagi orang yang beriman dan berjihad menegakkan keimanannya yang benar, serta kecelakaan dan kesengsaraan bagi siapa yang ingkar dan hidup atas keingkaran itu.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Apabila ditiup sangkakala) untuk tiupan yang kedua, guna membangkitkan manusia.
««•»»
For when the trumpet is sounded, when the trumpet is blown, that is, the Horn (qarn), at the second blast,
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 7][AYAT 9]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
8of56
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=74&tAyahNo=8&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#74:8

[074] Al Muddatstsir Ayat 007

««•»»
Surah Al Muddatstsir 7

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ
««•»»
walirabbika faishbir
««•»»
Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.
««•»»
and be patient for the sake of your Lord.
««•»»

Ayat ini memerintahkan supaya Nabi Muhammad SAW bersikap sabar, karena dalam berbuat taat itu pasti banyak rintangan dan cobaan yang dihadapi. Apalagi ketika berjihad hendak menyampaikan risalah Islamiyah. Sabar dalam ayat ini juga berarti tabah menderita karena disiksa atau disakiti karena apa yang disampaikan itu tidak disenangi orang. Bagi seorang dai ayat ini berarti bahwa ia dapat menahan diri dan menekan perasaan ketika misinya tidak diterima orang, ketika kebenaran yang diserukannya tidak dipedulikan orang. Janganlah putus asa, sebab tiada perjuangan yang berhasil tanpa pengorbanan. sebagaimana perjuangan yang telah dialami para Nabi dan Rasul.

Ada beberapa bentuk sabar yang ditafsirkan dari ayat di atas, misalnya:

Sabar dalam melakukan perbuatan taat, sehingga tekun tidak dihinggapi kebosanan; sabar menjauhkan diri dari perbuatan maksiat, menghadapi musuh, sabar ketika menghadapi cobaan dan ketetapan (qadar) Allah, dan sabar menghadapi kemewahan hidup di dunia.

Dengan sikap sabar dan tabah itulah sesuatu perjuangan dijamin akan berhasil, seperti yang diperlihatkan oleh junjungan kita Muhammad SAW.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan kepada Rabbmu bersabarlah) di dalam melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
««•»»
and endure patiently for the sake of your Lord, [all His] commands and prohibitions.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Hakim di dalam Kitab Sahih mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. bahwasanya pada suatu hari Walid bin Mughirah datang kepada Nabi saw., lalu Nabi saw. membacakan kepadanya Alquran. Seolah-olah Walid luluh hatinya mendengar bacaan itu.

Hal ini terdengar oleh Abu Jahal, maka dengan segera Abu Jahal mendatangi Walid dan langsung berkata kepadanya, "Hai paman! Sesungguhnya kaummu bermaksud menghimpun harta atau dana untuk kamu berikan kepada Muhammad dan sesungguhnya kamu telah mendatangi Muhammad untuk menawarkannya." Walid menjawab, "Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengetahui, bahwa aku adalah orang yang paling banyak hartanya di antara mereka." Abu Jahal berkata, "Kalau begitu, katakanlah sehubungan dengan Muhammad ini, suatu perkataan yang sampai kepada kaummu, bahwasanya kamu benar-benar ingkar kepadanya dan bahwa kamu benci kepadanya."

Walid menjawab, "Apakah yang harus kukatakan, demi Allah tiada seorang pun di antara kalian yang lebih mengetahui tentang syair selain aku dan tidak pula tentang rajaz dan tidak pula tentang qashidah selain dari aku dan tidak pula tentang syair-syair jin. Demi Allah apa yang telah dikatakannya itu tiada sedikit pun kemiripannya dengan hal-hal tersebut. Demi Allah! Sesungguhnya di dalam perkataannya itu benar-benar terkandung keindahan yang memukau dan sesungguhnya apa yang dia katakan itu bercahaya pada bagian atas dan bagian bawahnya sangat cemerlang. Sesungguhnya apa yang dia katakan itu (yakni Alquran) benar-benar tinggi dan tiada sesuatu pun yang lebih tinggi daripadanya. Sesungguhnya apa yang dia katakan itu benar-benar dapat menghancurkan apa yang ada di bawahnya."

Abu Jahal mengatakan, "Kaummu pasti tidak akan senang kepadamu sebelum kamu mengatakan hal-hal yang dibuat-buat mengenai dia." Walid berkata, "Kalau begitu, biarlah aku berpikir barang sejenak." Setelah ia berpikir lalu berkata, "Ya, Alquran ini adalah sihir yang ia pelajari dari orang lain." Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian."
(Q.S. Al Muddatstsir, 11)

Sanad hadis ini berpredikat sahih sesuai dengan syarat Imam Bukhari, artinya disebutkan di dalam kitab sahihnya. Imam Ibnu Jarir dan Imam Ibnu Abu Hatim, keduanya mengetengahkan pula hadis yang serupa, hanya hadis yang diriwayatkannya ini melalui jalur-jalur periwayatan yang lain.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 6][AYAT 8]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
7of56
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://al-quran.info/#74:7

[074] Al Muddatstsir Ayat 006

««•»»
Surah Al Muddatstsir 6

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ
««•»»
walaa tamnun tastaktsiru
««•»»
Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
««•»»
Do not grant a favour seeking a greater gain,
««•»»

Dalam ayat ini Nabi Muhammad SAW dilarang memberi dengan maksud memperoleh yang lebih banyak. Artinya janganlah mengharap dengan usaha dan ikhtiar mengajak manusia ke jalan Allah, dengan ilmu dan risalah yang beliau sampaikan kepada mereka dengan maksud memperoleh ganjaran atau upah yang lebih besar dari mereka. Tegasnya jangan menjadikan dakwah sebagai obyek bisnis yang mendatangkan keuntungan duniawi.

Bagi seorang Nabi lebih ditekankan lagi agar tidak mengharapkan upah sama sekali dalam berdakwah, guna memelihara keluhuran martabat kenabian yang dipikulnya

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak) lafal Tastaktsiru dibaca Rafa' berkedudukan sebagai Haal atau kata keterangan keadaan. Maksudnya, janganlah kamu memberi sesuatu dengan tujuan untuk memperoleh balasan yang lebih banyak dari apa yang telah kamu berikan. Hal ini khusus berlaku hanya bagi Nabi saw. karena sesungguhnya dia diperintahkan untuk mengerjakan akhlak-akhlak yang paling mulia dan pekerti yang paling baik.
««•»»
And do not grant a favour seeking greater gain (read tastakthiru as a circumstantial qualifier) in other words, do not give something in order to demand more in return: this [stipulation] is specific to the Prophet (s), since he is enjoined to [adopt] the fairest traits and the noblest of manners;

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Thabrani mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang lemah melalui Ibnu Abbas r.a. bahwasanya Walid bin Mughirah mengundang orang-orang Quraisy untuk makan bersama di rumahnya. Setelah mereka selesai makan, Walid berkata, "Bagaimana menurut pendapat kalian tentang lelaki itu (yakni Muhammad)?" Sebagian di antara mereka ada yang mengatakan, "Dia adalah tukang sihir." Sebagian lainnya mengatakan, "Dia bukan tukang sihir." Sebagian lagi di antara mereka ada yang mengatakan, "Dia adalah tukang tenung." Sebagian yang lain lagi mengatakan, "Dia bukan tukang tenung." Sebagian di antara mereka ada pula yang mengatakan, "Dia adalah penyair." Sebagian yang lainnya lagi mengatakan, "Dia bukan penyair." Sebagian yang lainnya lagi ada yang mengatakan, "Alquran yang dikatakannya itu adalah sihir yang ia pelajari sebelumnya." Akhirnya berita tersebut sampai kepada Nabi saw. maka Nabi saw. menjadi sedih karenanya, lalu ia menyelimuti seluruh tubuhnya.

Pada saat itulah Allah menurunkan firman-Nya,
"Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan!"
(QS. Al Muddatstsir [74]:1-2)
sampai dengan firman-Nya,
"Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah!."
(QS. Al Muddatstsir [74]:7)
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 5][AYAT 7]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
6of56
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=74&tAyahNo=6&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#74:6