Sabtu, 11 Juli 2015

[074] Al Muddatstsir Ayat 009

««•»»
Surah Al Muddatstsir 9

فَذٰلِكَ يَومَئِذٍ يَومٌ عَسيرٌ
««•»»
fadzalika yawma-idzin yawmun 'asiirun
««•»»
Maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit,
««•»»
that day will be a day of hardship,
««•»»

Setelah Allah memberikan pengarahan khusus kepada Nabi Muhammad SAW (yang juga menjadi cermin pengajaran bagi umat beliau) yang dimulai dari ayat 1 s/d 7 di atas, maka pada ayat ini dibayangkan pula tentang suasana kedatangan Hari Kiamat. Jelasnya di hari yang dijanjikan itu orang-orang yang telah menyakiti hati para Rasul, juru dakwah karena mereka menyampaikan ajaran Allah, akan mengalami suatu kesulitan yang luar biasa. Tersentak mereka mendengar seruan kiamat ditiup malaikat Israfil, mereka langsung merasakan betapa hebatnya kesulitan yang harus ditempuh. Karena itu Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW supaya bersabar saja atas gangguan-gangguan musuh tersebut.

Pada Hari Kiamat kelak semua orang mendapatkan apa yang telah mereka amalkan, berupa kesenangan yang abadi bagi orang yang beriman dan berjihad menegakkan keimanannya yang benar, serta kecelakaan dan kesengsaraan bagi siapa yang ingkar dan hidup atas keingkaran itu.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Maka waktu itu) waktu peniupan sangkakala yang kedua (adalah waktu) lafal Yaumaidzin berkedudukan menjadi Badal dari lafal yang sebelumnya, dan sekaligus menjadi Mubtada. Lafal Yaumaidzin dimabnikan karena mengingat dimudhafkan kepada Isim yang Ghairu Mutamakkin. Kemudian yang menjadi Khabarnya ialah (datangnya hari yang sulit) Amil yang mempengaruhi lafal Idza adalah kalimat yang disimpulkan dari pengertian keseluruhannya. Yakni pada hari itu perkara dirasakan amat berat.
««•»»
that day, that is to say, the time of the sounding (yawma’idhin is a substitution for the preceding subject, and is not declined because it is annexed to something that cannot be declined; the predicate of the subject [is the following]) will be a harsh day (idhā is operated by what is indicated by the statement: ishtadda’l-amru, ‘[for when the trumpet is sounded] the situation will be terrible’),
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 8][AYAT 10]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
9of56
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=74&tAyahNo=9&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#74:9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar